Wednesday, March 2, 2011

MENUNGGU



Di suatu tempat di tepi sungai, seorang pemuda memandang seorang pemancing tua. Sambil duduk beralas daun pisang, Pak Tua begitu menikmati kegiatan memancing. Ia pegang gagang pancingan dengan begitu mantap. Sesekali, tangannya membetulkan posisi topi agar wajahnya tak terkena terik sinar matahari. Sambil bersiul, ia menikmati hijaunya pemandangan sekitar sungai.

Sang pemuda terus memandang si pemancing tua. “Aneh?” ucapnya membatin. Tanpa sedar, satu jam sudah perhatiannya tersita buat Pak Tua. Tujuannya ke pasar nyaris terlupakan. “Bagaimana mungkin orang setua dia boleh tahan berjam-jam hanya kerana satu dua ikan?” gumamnya kemudian.

Belum dapat, Pak? Ucap si pemuda sambil melangkah menghampiri Pak Tua. Yang disapa menoleh, dan langsung senyum. “Belum”, jawabnya pendek. Pandangannya beralih ke si pemuda sesaat, kemudian kembali lagi ke arah genangan sungai. Air berwarna kecoklatan itu seperti kumpulan bunga-bunga yang begitu indah di mata Pak Tua. Ia tetap tak beranjak.

Sudah berapa lama Bapak menunggu?” Tanya sia pemuda sambil ikut memandang ke aliran sungai. Pelampung yang menjadi tanda Pak Tua terlihat tak memberikan tanda-tanda apa pun. Tetap tenang.

Baru tiga jam”, jawab Pak Tua ringan. Sesekali, siulannya menendangkan nada-nada tertentu. “Ada apa, Anak Muda?” tiba-tiba Pak Tua balik Tanya. Si Pemuda berusaha tenang. “Bagaimana Bapak boleh sesabar itu menunggu ikan? tanyanya agak hati-hati.

Anak Muda”, suara Pak Tua agak parau. “Dalam memancing, jangan melulu menatap pelampung. Kerana kau akan cepat jenuh. Pandanglah alam sekitar sini. Dengarkan dendang burung yang membentuk irama begitu merdu. Rasakan belaian angin sepoi-sepoi yang bertiup dari sela-sela pepohonan. Nikmatilah, kau akan nyaman menunggu!” ucap Pak Tua tenang. Dan ia pun kembali bersiul.

Tak ada kegiatan yang paling membosankan selain menunggu. Padahal hidup adalah kegiatan menunggu. Orang tua menunggu tumbuh kembang anak-anaknya. Rakyat menunggu kebijakan pemerintahnya. Para gadis menunggu jodohnya. Pegawai menunggu akhir bulannya. Semua menunggu.

Namun, jangan terlalu serius menatap “pelampung” yang ditunggu. Kerana energi kesabaran akan cepat terkuras habis. Kenapa tidak cuba untuk menikmati suara merdu pergantian detak jarum penantian, angin sepoi-sepoi pergantian siang dan malam, dan permainan seribu satu pengharapan.

Nikmatilah! Insya Allah, menunggu menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Seperti memandang taman indah di tepian sungai.


(sumber: Majalah SAKSI No.20 Th. VII 6 Juli 2005)

No comments:

Post a Comment