Wednesday, March 17, 2010

LEMPARKAN


{Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bersandar kepadanya, dan aku menggunakannya untuk merontokkan (memukul) daun-daun untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya".

Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!"

Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.

Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan asalnya.}
Surah Thaha(18-21)

Apa yang kita boleh dapati dari ayat-ayat di atas? Subhanallah, sebelum ini ana belum pernah terlintas akan apa yang ana dapati dari seorang teman kelmarin. Mungkin, inilah peringatan Allah buat ana yang jarang-jarang sekali serius serta fokus dalam mentadabbur ayat dalam sehari. Sehinggakan mata hati terkabur, tidak telus dan tak dapat melihat dari sudut dimensi yang berbeza.

Kalau sebelum ini, membacakan ayat-ayat di atas, yang tergambar di kepala ana hanyalah tentang mukjizat yang dikurniakan Allah kepada Nabi Musa. Subhanallah, namun berkat perkongsian dari diskusi ‘study circle’ ana kelmarin, banyak cabang idea dan sudut pandang yang lebih teraplikasi dalam kehidupan ana sebagai seorang ‘M’, ‘MT’ dan juga ‘D’ khasnya…
Baiklah, mari bersama ana kita tadabbur ayat-ayat di atas. Apa ya?? Masih kabur…. Baik, kita mulakan dengan tongkat. Kalau kita lihat di sini, Nabi Musa menyenaraikan fungsi-fungsi tongkat yang beliau gunakan. Antaranya, sebagai sandaran(menopang) sewaktu berjalan, sebagai alat memukul daun-daun untuk diberi makan kepada kambing-kambingnya dan lain-lain yang tak disebut. Itu sahaja.

Nah, hebatkah fungsi tongkat tersebut? Jika kita teliti, fungsinya biasa-biasa saja bukan? Tidak langsung menimbulkan kekaguman. Namun, kita lihat ayat seterusnya di mana Allah memerintahkan Nabi Musa melemparkan tongkat tersebut. Subhanallah! Tongkat yang tadinya tidak punya fungsi hebat dan mengagumkan, kini bisa merembes kata ‘wow’ di mulut orang-orang yang melihatnya.

Kuasa Allah, itu pasti dan wajib diyakini. Nah lagi, kita pandang dari sudut diri kita sebagai ‘seseorang’. Kata kuncinya adalah P.O.T.E.N.S.I.

Benar! Itulah yang dinamakan potensi. Sebelum dikeluarkan, sebelum digarap dan digilap, potensi itu akan kekal sebagai suatu yang biasa-biasa saja. Yang tidak menimbulkan impak luar biasa dan tidak memberi kontribusi apa pun. Namun, Allah menginginkan kita melemparkan, mengeluarkan, menghamburkan semua potensi emas yang terkubur di lombong diri kita. “Lemparkanlah wahai Musa!”- tujukanlah ayat ini kepada diri anda, diri kita sendiri.
Dengan itu, baru langsung akan terekspresinya, tersuratnya dan terpancarnya segala potensi yang ada pada diri kita. Dan satu perkara, jangan langsung pernah merendahkan dan meringan-ringankan bakat yang kita miliki. Boleh jadi, itulah potensi emas kita.

Walaupun kita hanya pandai menulis, kata-kata yang ditulis itu pabila digarap, akan bisa mengoncang dunia. Akan bisa menyentuh hati-hati yang membaca. Dan kalau kita suka melihat filem-filem animasi, nah, gunakan segala idea dan kreativiti anda untuk melahirkan filem animasi pendek yang berbentuk Islami. Kalau bakatnya dalam memasak, kontribusi bakat yang ada untuk memasak dalam acara-acara, program-program, daurah-daurah, mukhayyam-mukhayyam(perkhemahan) dan sebagainya.

Gunakan setiap sarana, ruang dan kesempatan yang ada. Lemparkanlah bakat anda untuk digarap menjadi potensi diri yang berharga dan berkontribusi.

Ingat, jangan pernah memandang enteng(menyepelekan) setiap bakat dan potensi anda. Sekecil mana pun ia. Teringat kata-kata emas(lupa dari siapa) yang berbunyi seperti ini;
“Berapa banyak kerja kecil menjadi BESAR kerana niat, dan berapa banyak kerja besar menjadi KERDIL kerana niat. Ikhlaskanlah dirimu!”

Jadi, para penggali potensi emas sekalian, yuk kita berusaha mencari potensi itu untuk dilemparkan, digarapkan dan diberdayagunakan. Yuk!

1 comment: